darsina

Just another Blogdetik.com weblog

Amnesia massal dan Ingatan Pendek Itu…

Oleh Irfan Darsina

Saya berusaha tidak percaya jika ada yang bilang bangsa Indonesia itu penderita amnesia dan/atau memiliki ingatan yang pendek. Tetapi bukti demi bukti bermunculan mengukuhan pendapat itu. Salah satunya adalah kasus Bank Century yang kini diplototi Panitia Angket DPR.

Bangsa ini bisa dikatakan menderita Amnesia Massal dan/atau ingatan pendek justru karena adanya pembentukan panitia Angket yang sok herois itu. Padahal, Drajat Wibowo yang sekarang bersuara keras saja, pada akhir 2008 itu mengapresiasi langkah pemerintah menyelamatkan Century. Dan para inisiator Hak Angket itu di mana gerangan mereka tahun 2008 itu?

Saya tidak tahu. Mungkin mereka saat itu belum lahir atau hidup di negeri antah berantah. Mereka hanya tahu tiba-tiba ada dana besar Rp 6,7 T yang diklaim sebagai uang rakyat digelontorkan ke BC dan dicurigai ditilep….. (dan percaya deh, para inisiator itu pastilah juga menerima rumor yang sama dengan yang disebarkan sebuah LSM ttg aliran dana Century itu: Partai Dodol dapat Rp 100 M, Anak Presiden dapat Rp 10 M, Jubir dapat Rp 10 M, Mantan Capres dapat Rp 10 M, adik jubir dapat Rp 10 M, Sekjen Negoro dapat Rp 50 M, bahkan kumpulan tukang teliti bernama LSI juga kebagian Rp 100 M, dan entah apa lagi, entah siapa lagi yang kena fitnah itu….)

Dugaan mereka bahwa ada pelanggaran pidana di Century memang benar. Dan si RT sudah kena hukumannya, meski mungkin kita menilai hukuman itu terlampau ringan. Mungkin ada pelaku pidana lain yang menikmati aliran dana bail out, yach itu urusan polisi dan KPK. Biarkan mereka bekerja, dan koboi Senayan mestinya jadi penonton sahaja. Tetapi menuduh kebijakan bailout Century salah, sebagaimana motif utama koboi senayan itu, sungguh mencerminkan amnesia dan ingatan pendek itu. Dan menuduh ada aliran dana ke tempat yang bukan semestinya (seperti rumor LSM itu), apalagi itu menguntungkan Boediono dan Sri Mulyani Indrawati (dua pejabat, iya mungkin Indonesia hanya memiliki dua pejabat dengan integritas tak tercela), yang juga menjadi motif laten sebagian Koboi Senayan hingga membentuk Angket Century, sungguh mencerminkan betapa sang koboi itu mengukur orang lain dengan neraca dirinya sendiri: kalau dirinya korup maka orang lain juga korup……

Pansus Angket mungkin perlu jika bekerja tanpa menggunakan uang rakyat jika hasilnya bukan untuk kepentingan rakyat. Dan, lama kelamaan kita tahu, hasil Angket bukan untuk rakyat, tetapi sekadar ingin menunjukkan bahwa mereka bekerja (padahal, sekali lagi, kalau ada dugaan pidana kourpsi biarkan KPK bekerja). Dan, baru beberapa hari bekerja, kita ingat, mereka sudah minta-minta uang Rp 5 Miliar untuk biaya Angket. Lha itu kan uang rakyat… padahal apa yang bakal mereka dapat? Saya khawatir hanya pepesan kosong sahaja.

Laporan Majalah TEMPO di rubrik Ekonomi & Bisnis pada akhir 2008 yang saya dapatkan di milis (terimakasih untuk rekan jil kalaran yang menautkan arsip ini di milis) ini mungkin sedikit mengobati amnesia massal dan ingatan pendek kita itu. Semoga….

(Arsip tempointeraktif. com (2008/12/01))

Di Bawah Lindungan Pemerintah

Bank Century karam seandainya Bank Indonesia
gagal meyakinkan pemerintah agar Lembaga Penjamin Simpanan mengambil
alih bank ini. Pengawasan bank sentral dipertanyakan.

SERATUSAN nasabah Bank Century memenuhi
ruang Arya Wira di lantai 1 Hotel Atlet Century, Senayan, Jakarta,
Kamis siang pekan lalu. Deposan yang rata-rata memiliki tabungan di
atas Rp 2 miliar ini berlomba mengajukan pertanyaan seputar nasib
simpanan mereka, dan juga kelanjutan bank tersebut. Dengan sabar,
Direktur Utama Bank Century Maryono, yang juga bekas Group Head Jakarta
Network PT Bank Mandiri Tbk., menjawab pertanyaan itu satu per satu.

Berulang-ulang Maryono, yang baru lima hari memimpin Century,
membujuk para deposan agar tetap menyimpan duitnya di Bank Century. Dia
meyakinkan mereka bahwa bank ini bisa kembali normal karena Lembaga
Penjamin Simpanan telah menyiapkan duit sekitar Rp 2,5 triliun untuk
menyangga kehidupannya. Setelah suntikan itu, rasio kecukupan modal
Bank Century sudah mendekati 10 persen, melampaui ketentuan Bank
Indonesia yang 8 persen.

Bank Century memang belum normal seratus persen. Kegiatan
operasional dan kliring sudah berjalan, tapi persoalan likuiditas masih
menjadi ganjalan. Tak aneh bila beberapa nasabah masih belum sepenuhnya
bisa mencairkan depositonya hingga pekan lalu. “Kami berupaya agar
likuiditas bank ini normal lagi dan bank kembali solven (bisa memenuhi
semua kewajiban),” kata Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Firdaus
Djaelani.

Kendati belum pulih benar, kondisi Bank Century berbalik 180
derajat dibanding dua pekan lalu. Saat itu, Bank Century kritis
sehingga Bank Indonesia melarang ikut kliring pada 13 November lantaran
telat menyetor pre-fund selama 15 menit. Rupanya, bank hasil merger
Bank CIC Internasional, Bank Danpac, dan Bank Pikko ini sedang
kekurangan duit alias likuiditasnya kering. Rasio kecukupan modalnya
juga sudah minus 2,3 persen.

Century cukup beruntung. Seandainya Bank Indonesia gagal
meyakinkan pemerintah agar Lembaga Penjamin mengambilalihnya, Century
mungkin tinggal nama. Keputusan tentang hal itu ditetapkan dalam rapat
yang digelar pada Kamis dua pekan lalu. Rapat dihadiri oleh Menteri
Keuangan Sri Mulyani, Gubernur Bank Indonesia Boediono, Menteri Negara
Badan Usaha Milik Negara Sofyan Djalil, Deputi Gubernur Senior Bank
Indonesia Miranda Goeltom, Deputi Gubernur Bank Indonesia Siti Ch.
Fadjrijah, Muliaman Hadad, dan Budi Mulia.

Hadir pula Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Rahmat
Waluyanto, Direktur Jenderal Pajak Darmin Nasution, dan Ketua Badan
Pengawas Pasar Modal Fuad Rahmany. Direktur Utama Bank Century saat
itu, Hermanus Hasan Muslim, dan Wakil Direktur Utama Hamidy, Direktur
Utama Bank Mandiri Agus Martowardojo, dan Kepala Eksekutif Lembaga
Simpanan Firdaus Djaelani juga ikut bergabung.

Sumber Tempo menceritakan, dalam rapat yang dimulai pukul 21.00
itu, Fadjrijah memaparkan kondisi Bank Century. Rasio kecukupan
modalnya minus. Fasilitas pembiayaan jangka pendek dari Bank Indonesia
sebesar Rp 700 miliar tak bisa banyak membantu. Sinar Mas Group yang
semula akan mengakuisisi Century masih butuh waktu untuk melakukan uji
tuntas. “Pemerintah harus mengambil alih. Sebab, jika dibiarkan jatuh,
Century akan berdampak sistemik terhadap perbankan Indonesia,” kata
sumber itu, menirukan alasan Bank Indonesia.

Peserta rapat, terutama para pejabat eselon satu Departemen
Keuangan, kata sumber itu, mempertanyakan rekomendasi regulator
perbankan tersebut. “Mereka mempermasalahkan parameter yang dipakai
Bank Indonesia.” Fuad Rahmany, menurut sumber itu, misalnya,
mempertanyakan dampak sistemik Bank Century ke bank lainnya. “Century
hanya bank terbuka kecil,” ujarnya.

Fuad merujuk aset Bank Century yang hanya Rp 14 triliun, kurang
dari satu persen dari total aset perbankan nasional sebesar Rp 2.000
triliun. Dana pihak ketiganya yang hanya Rp 10 triliun juga relatif
kecil dibandingkan dengan seluruh dana pihak ketiga industri perbankan
sekitar Rp 1.600 triliun. Fuad enggan menanggapi tatkala dimintai
konfirmasi soal ini. “Janganlah itu. No Comment,” ujarnya kepada Ari
Astri dari Tempo di sela Investor Summit dan Capital Market Expo 2008
di Jakarta pekan lalu.

Darmin Nasution juga tak kalah keras menanggapi rekomendasi
Bank Indonesia tadi. “Pak Darmin heran mengapa kasus Bank Century baru
dibawa sekarang,” ujar sang sumber. Seandainya dulu pada 2004 Bank
Indonesia menutup Bank CIC-cikal bakal Century-yang sedang bermasalah,
industri perbankan tak akan kena getahnya sekarang. Seperti Fuad,
Darmin juga mengelak. “Siapa yang bilang? Kamu menebak-nebak saja,”
katanya kepada Harun Mahbub dari Tempo pada saat rehat pembahasan
Rancangan Undang-Undang Pajak Penjualan Barang Mewah di Dewan
Perwakilan Rakyat di Jakarta, pekan lalu.

Menurut sumber itu, beberapa peserta rapat menyoroti pengawasan
Bank Indonesia terhadap Bank Century. Bank Indonesia dinilai terlalu
banyak memberikan toleransi kepada bank yang dikendalikan PT Century
Mega Investindo (Robert Tantular) dan First Gulf Asia Holdings Ltd.
(Rafat Ali Rizvi dan Hesham Al Warraq), terutama ketika membeli surat
utang valuta asing yang tak layak. “Kalau Bank Indonesia mau serius,
Century sudah habis dari dulu,” ujarnya.
Rapat pun alot. Sampai tengah malam perdebatan masih panjang.
Tiba-tiba Sofyan Djalil meninggalkan rapat sekitar pukul 24.00. “Belum
ada keputusan apa pun,” ujarnya kepada para wartawan yang menunggu di
luar ruangan.

Gempuran dari segala penjuru tak membuat Bank Indonesia putus
asa. Dari Boediono, Miranda, hingga Muliaman secara bergantian
meyakinkan perlunya penyelamatan Century. Menurut Bank Indonesia, aset
dan dana masyarakat di Bank Century memang tak besar. Tapi Bank Century
memiliki pinjaman ke bank-bank lain yang cukup signifikan. Jika terjadi
gagal bayar, akan ada efek negatif terhadap bank lain. Secara
psikologis, masyarakat dan nasabah bisa panik jika Century dibiarkan
ambruk.

Dengan berbagai argumentasi itu, para peserta rapat, kata
sumber tadi, melunak. Sri Mulyani juga sepakat dengan kemungkinan
dampak sistemik Bank Century. Menjelang subuh akhirnya Sri Mulyani
sebagai ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memutuskan
Lembaga Simpanan mengambil alih Bank Century. Melihat sang bos sudah
membuat keputusan, para pejabat eselon satu Departemen Keuangan tak
mempermasalahkannya lagi. Rapat baru berakhir pada Jumat pukul 06.30.

lll

Sejumlah kalangan menyambut positif gerak cepat pemerintah dan Bank
Indonesia menyelamatkan Bank Century. Langkah strategis itu dinilai
bisa mengisolasi masalah bank yang berkantor pusat di Gedung Sentral
Senayan, Jakarta, ini tidak melebar ke bank lain. “Jika satu saja
nasabah Bank Century kesulitan mengambil dana di bank, akan menjadi
rumor dan memberikan efek psikologis,” ujar anggota Komisi Keuangan
Dewan Perwakilan Rakyat, Dradjad H. Wibowo.

Tapi Dradjad dan ekonom Faisal Basri juga mengkritik lemahnya
pengawasan Bank Indonesia, karena sejak dulu ada indikasi pengelolaan
Bank Century kurang hati-hati. “BI memang lemah. Padahal dari dulu Bank
CIC, Bank Pikko, Bank Danpac reputasinya kurang terpuji,” kata Faisal.

Indikasi ketidakhati- hatian manajemen terlihat dari keputusan
bank ini berinvestasi pada surat berharga Credit Link Note Republic of
Indonesia (CLN-ROI). Bank Indonesia, kata Fadjrijah, sebenarnya tak
diam saja. Pada 2005, Bank Indonesia telah meminta manajemen Bank
Century menjualnya karena surat berharga pemerintah Indonesia ini tak
boleh diperjualbelikan.

Bank Century menuruti saran Bank Indonesia menjual CLN-ROI.
Tapi, alih-alih membeli surat berharga bagus, Bank Century justru
berinvestasi lagi pada surat utang yang tak layak investasi
(non-investment grade) senilai US$ 203 juta (Rp 2,3 triliun dengan kurs
Rp 11.500 per dolar). “Banyak kredit juga tidak layak, yang patut
diduga sebagai rekayasa,” ujar Dradjad.

Menurut Fadjrijah, Bank Indonesia kembali memperingatkan Bank
Century agar menjual surat-surat berharga itu. Lantaran penjualannya
tak mudah, pemegang saham Bank Century, terutama First Gulf,
mengeluarkan jaminan berupa asset management agreement (AMA), yaitu
deposit senilai US$ 220 juta di Dresdner Bank Swiss. Menurut jaminan
ini, First Gulf akan mengembalikan duit Bank Century yang dibelikan
surat-surat utang bertahap sampai 2009.

First Gulf menepati janjinya mengembalikan duit milik Bank
Century pada 2006 dan 2007. Tapi pemegang saham pengendali Bank Century
itu tidak mampu membayar jaminan senilai US$ 56 juta (Rp 644 miliar)
yang jatuh tempo pada akhir Oktober dan 3 November 2008. “Bank Century
pun langsung kesulitan likuiditas,” kata Fadjrijah. Penarikan oleh
deposan besar dan macetnya pinjaman antarbank, kata dia, semakin
mempercepat jatuhnya Bank Century.

Hermanus dan Hamidy tak bisa dimintai tanggapan mengenai soal
itu. Tempo berulang kali menghubungi telepon seluler mereka, tapi tak
direspons. Pesan pendek pun hingga kini belum dibalas. Tapi Sekretaris
Perusahaan Bank Century Dedi Triyana mengakui, persoalan penyelesaian
surat utang dengan jaminan pemegang saham ada dalam laporan keuangan
Bank Century. “Tapi bagaimana itu bisa terjadi, saya tidak tahu,”
ujarnya kepada Tempo di Jakarta pekan lalu.

Pengawasan ketat terhadap Bank Century, kata Fadjrijah, juga
bukan sekali saja. Setelah melihat ada indikasi kesulitan, pada 2007
Bank Indonesia memaksa pemegang saham Century mencari investor baru.
Ada banyak calon berminat, misalnya Maybank Malaysia, HSBC Inggris,
Bank Korea Xinhan, Noor Islamic Bank, dan Hana Bank Korea.

Bahkan penjualan ke Hana Bank hampir terlaksana dan negosiasi
tinggal pada soal pembagian saham saja. Tapi langkah itu gagal karena
Negeri Ginseng ini terimbas krisis finansial global. Akuisisi oleh
Sinar Mas Group juga tertunda. “Itulah sebabnya kami mempertahankan
Century karena bank ini masih layak hidup dan ada nilainya,” kata dia.

Kini Lembaga Penjamin sudah mengambil alih Bank Century. Tapi,
kata Fadjrijah, bukan berarti persoalannya selesai. Tiga pemegang saham
pengendali Bank Century, yakni Rafat Ali Rizvi (warga negara Inggris
keturunan Pakistan), Hesham al-Warraq (Arab Saudi), dan Robert Tantular
harus mengembalikan aset Bank Century senilai US$ 230 juta.

Untuk menyelamatkan aset-aset Bank Century, Direktorat Jenderal
Imigrasi telah mencekal mantan Komisaris Utama Sulaiman Ahmad Basyir,
mantan komisaris Poerwanto Kamsjadi dan Rusli Prakarsa, Hermanus,
Hamidy, mantan direktur Sriyono, Lila Gondokusumo, dan Robert Tantular.
Rafat dan Hesham tak termasuk yang dicekal. “Kami telah meminta
otoritas di Singapura dan Inggris membantu pengembalian aset,” kata
Fadjrijah.

Ketidakberesan pengelolaan Century juga sudah dilaporkan ke
polisi. Pekan lalu, Markas Besar Kepolisian telah menahan Hermanus dan
Robert Tantular. Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri Komisaris
Jenderal Susno Duadji kepada wartawan menjelaskan, Robert diduga
mempengaruhi direksi Bank Century dalam membuat keputusan, sehingga
berdampak terhadap likuiditas bank. Salah satunya investasi pada
surat-surat berharga yang tidak layak. “Operator bank itu direksi.
Pemegang saham hanya duduk manis. Tapi dia malah mempengaruhi,”
ujarnya.

Akibatnya, kata Direktur Ekonomi Khusus Brigadir Jenderal
Edmond Ilyas, kewajiban bank untuk melayani nasabahnya tidak bisa
dilakukan secara maksimal. Robert diduga melanggar Pasal 50 dan 50-A
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan. Robert terancam
denda Rp 5 hingga 100 miliar dan ancaman penjara maksimal 15 tahun.

Tapi Robert membantah telah mengintervensi dan mempengaruhi
kebijakan direksi Bank Century. “Enggak, saya tidak mengelola Bank
Century,” ujarnya kepada Iqbal Muhtarom dari Tempo di Jakarta pekan
lalu. Benar atau tidaknya klaim Robert, pengadilan yang nanti
memutuskan.

Padjar Iswara, Amandra Megarani, Ismi Wahid, Desy Pakpahan, Eko Nopiasyah

(Link http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2008/12/01/EB/mbm.20081201.EB128891.id.html)

Selamatkan Sri Mulyani Indrawati

Oleh Irfan Darsina

Sebagai ekonom, Sri Mulyani dicap sebagai penganut Neoliberalisme. Sedang saya pendukung pasal 33 UUD’45. Sebagai pejabat, Sri Mulyani adalah menteri dengan segudang prestasi yang diakui dunia internasional. Sedang saya hanya rakyat yang sekadar menjalani hidup dari hari ke hari. Sebagai wanita, Sri Mulyani memiliki keperibadian menarik dan inner beauty, sedang saya hanya lelaki yang dalam berhadapan dengan perempuan seringkali tidaklah pede. Alhasil, antara Sri Mulyani dan saya, ibarat langit dan bumi, tak ada hubungan apa-apa.

Akan tetapi saya kemarin bergabung dengan grup SELAMATKAN SRI MULYANI di FB. Lengkapnya, group “Selamat Sri Mulyani, Selamatkan Bangsa dan Konstitusi”. Nama group yang sedikit bias dan tampak si pendiri agak tak percaya diri, saya kira. Seharusnya, cukup “Selamatkan Sri Mulyani” saja, tak perlu diembel-embeli dengan “Selamatkan Bangsa dan Konstitusi” segala. Sebab “menyelamatkan Sri Mulyani” tidak selalu identik dengan “menyelamatkan bangsa” dn “menyelamatkan konsitusi” meskipun boleh jadi berkaitan. Tapi, yach, sudahlah… wong pendirinya mau begitu, ya sebagai anggota saya manut saja. Selanjutnya, saya uga gabung group “Kami Percaya Integritas Sri Mulyani Indrawati”. Group ini mengalami pertumbuhan yang jauh lebih cepat dibanding group pertama.

Sebetulnya, sudah lama saya ingin bergabung dg grup dan/atau menulis note yang lebih proporsional tentang Sri Mulyani Indrawati. Tentu saja ini berkaitan dengan isu Centurygate. Saya melihat ada mainstream yang, entah didorong angin buritan mana, begitu kuat memojokkan Sri Mulyani (juga Boediono) sebagai orang yang ujung2nya harus dipersalahkan dalam kasus Centurygate. Mereka sejak awal sudah punya agenda tersembunyi: Sri Mulyani dan Boediono harus dijadikan korban. Berbagai statemen yang meminta keduanya mundur, yang disampaikan para politisi gaek itu, merupakan bukti betapa upaya membongkar kasus century lebih didominasi oleh kepentingan politik daripada hukum, keadilan, dan ekonomi. Bagi saya, mainstream itu sudah terlalu berlebihan, sehingga tak lagi bersikap adil: adil sejak dalam pikiran.

Tak berhenti di situ. Belakangan beredar rekaman pembicaraan antara Sri Mulyani dan Robert Tantular, mantan Dirut Bank Century yang divonis pidana 4 Tahun Penjara. Ada dua hal yang menurut saya keterlaluan dalam penyebarluasan rekaman pembicaraan itu.

Pertama, ada media dan penulis yang menyebut rekaman pembicaraan SM dan RT itu terjadi saat keduanya berada dalam forum rapat Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) tanggal 21 November 2008 (lihat, misalnya: http://politikana.com/baca/2009/12/11/rekaman-pembicaraan-sri-mulyani-dan-robert-tantular.html#comment-133481). Penulis di situ tidak menggunakan akal sehat karena tidak mengetahui (atau pura-pura tidak tahu) bahwa rapat KSSK itu TERTUTUP. Namanya rapat Tertutup, maka tak ada satu setan, jin, dan manusia manapun yang bisa hadir di rapat itu kecuali pengurus dan anggota KSSK). Faktanya, RT memang tidak hadir di dalam rapat tsb.

Kedua, isi rekaman itu disimpulkan sebagai bukti SM dan RT dekat, dan RT berhasil mempengaruhi SM agar KSSK mengambil keputusan Bailout dengan alasan krisis. Rekaman pembicaraan itu kira2 berbunyi sebagai berikut:
(SM) : Robert, rapatnya tertutup…
(RT): Silakan rapat tertutup, tapi kesimpulan harus ada krisis global…..

Rekaman itu dilontarkan oleh politisi Golkar yang juga anggota panitia angket, Bambang Susatyo. Bambang mengaku punya rekamannya sekaligus transkripnya. Durasi rekaman, kata Bambang, berlangsung 4 jam.

Saya tak paham mengapa Bambang tidak bisa membedakan antara rekaman rapat KSSK dengan rekaman pembicaraan SM & RT (kalau memang pembiocaraan SM & RT itu ada, saya pribadi skeptis). Tetapi melihat respon Depkeu yang menuding Bambang sudah menyebar fitnah, dan bantahan RT sendiri bahwa ia tidak pernah bicara dengan SM (‘boro-boro bicara, kenal saja tidak, lihat http://www.detiknews.com/read/2009/12/12/105142/1258872/10/robert-tantular-boro-boro-bicara-kenal-sri-mulyani-saja-tidak?991101605) tampaknya seorang Bambang sedang menabur angin dan harus siap2 segera menuai badai.

Andai kata pembicaraan SM dan RT itu benar terjadi, maka pembicaraan itu tdk mencerminkan kedekatan antara SM dan RT, apalagi membuat SM terpengaruh sehingga membuat KSSK memgambil keputusan bail out sesuai keinginan RT tsb. Orang yang beraggapan SM mudah terpengaruh oleh permintaan/ucapan orang lain jika tak sesuai ketentuan perundangan, saya kira, sedang terkena amnesia. Orang itu lupa, SM pernah berkata tidak pada (mantan) Wapres JK soal listrik; SM pernah menolak permohonan soal Bumi Resources dan Lapindo yang dimiliki Ical yang notabene saat itu adalah Menko dalam Kabinet; SM, konon (ini sih rumor yang belum dkonfirmasi), juga berani membantah bosnya, SBY, ketika tidak sependapat. Nah, SM dengan intelegensia dan integritas seperti itu lalu tiba-tiba terpengaruh oleh omongan seorang RT?????? Saya khawatir orang yang berkesimpulan seperti itu sedang tidak menggunakan akal sehat yang dianugerahkan Allah SWT kepadanya.

Akan tetapi, jkika kemudian terbukti benar bahwa rekaman pembicaraan SM & RT itu hasil rekayasa, maka sungguh jelas betapa penyebarluasan rekaman itu melalui seorang anggota Pansus Angket yang terhormat tidak lain dari bagian dari upaya menghancurkan SM. Ini sebuah sikap yang tidak adil: adil sejak dalam pikiran. Itu sungguh fitnah yang keji. “Ada upaya kriminalisasi terhadap SM dan Boediono,” kata Denny Indrayana. Padahal, dalam pandangan Denny, Boediono dan SM adalah dua tokoh bangsa yang memiliki intergritas tinggi.

Bersyukur sudah mulai ada suara-suara yang berupaya mendudukkan kasus Century secara proporsional. Tulisan Dahlan Iskan di Jawa Posr, artikel Tony A Prasetyantono di Kompas, komentar Faisal Basri yang dikutip sejumlah media dan websites, merupakan contoh beberapa suara yang mulai bergema melawan mainstream. Saya kira perlu lebih banyak tokoh-tokoh netral bicara kasus Century secara proporsional, bukan hanya untuk mengimbangi mainstrem yang sekarang makin politis atau dibelokkan untuk ajang balas dendam, tetapi juga untuk memberikan pendidikan rakyat bagaimana sebuah perkara diselesaikan secara bermartabat. Rakyat berhak mendapatkan informasi seimbang, adil, transparan dalam pengungkapan kasus Century yang dilakukan pansus sekarang. Rakyat harus tahu, apakah kebijakan bail out itu benar dan kemana aliran dana Rp 6,7 Triliun itu mengalir, secara transparan. Sehingga kalau ada orang yang berupaya memanfaatkan panitia angket Century untuk ajang balas dendam, atau upaya untuk menutup2i transparansi itu, rakyat bisa menilai. Sebab, rakyat tidak sebodoh yang mereka persangkakan….

Tentang Pin Bergambar Nabi Saw Itu

Oleh Irfan Darsina

Kasus pin bergambar Nabi Muhammad saw di Makasar baru-baru ini mendapat sorotan media massa di Tanah Air. Peredaran pin itu menuai kontroversi. Karena berpotensi menyangkut gangguan ketertiban, aparat kepolisian bertindak cepat: orang yang diduga menyebarkan atau memperjualbelikan pin tersebut diamankan. Sejumlah tokoh agama, terutama MUI, juga merespon dengan cepat. Sikap MUI jelas, apapun yang memuat gambar yang diakui sebagai gambar Nabi Muhammad saw hukumnya dilarang. Pasalnya, tak seorangpun pernah bertemu dengan Nabi saw di zaman sekarang sehingga gambar2 itu hanya rekayasa yang berpotensi menyesatkan umat.

Seingat saya, sejak dulu ummat muslim dilarang membuat/mengedarkan gambar/lukisan Nabi saw. Pelarangan itu sudah menjadi hukum besi yang tak bisa diganggu gugat. Tetapi, saya tidak tahu, apa sesungguhnya dasar hukum pelarangan itu. Kita tahu, larangan makan daging babi bagi kaum muslim dasar hukumnya ada di Al Quran dan Hadits Nabi saw. Tetapi, apa dasar hukum yang secara spesifik melarang pembuatan gambar Nabi Saw (bagi yang meyakininya) tersebut? Saya tidak tahu. Mudah2an ada di antara teman yang bisa memberikan pencerahan.

Sependek pengetahuan saya, larangan pembuatan gambar Nabi saw tersebut bersifat general. Formulasi pasalnya, kira-kira begini: penistaan terhadap Islam, Nabi, Al-Qur’an, Nabi Muhammad dan simbol-simbol utamanya adalah haram. Itu sebabnya ummat Islam seluruh dunia marah ketika Salman Rushdi menulis novel yang melecehkan Nabi Saw dan Al Quran. Itu sebabnya dunia Islam protes keras ketika sebuah SK Jyllands Posten terbitan Denmark memuat kartun yang melecehkan Nabi saw.

Islam adalah agama yang sangat memperhatikan dan mengutamakan niat dalam setiap tindakan. Niat dalam setiap tindakan itu (kebanyakan) bersifat laten, tetapi bisa pula manifest. Artinya, niat bisa diukur dari hasil sebuah perbuatan dan/atau efek perbuatan itu. Contoh tindakan yang dilakukan Salman Rushdi dan Jyllands Posten, dengan melihat sepintas saja, kita sudah bisa menyimpulkan bahwa mereka berniat melecehkan Nabi saw.

Pertanyaan kita sekarang, apakah orang-orang yang mengedarkan pin bergambar Nabi saw itu berniat melecehkan nabi saw atau justru menunjukkan kecintaan lepada Nabi saw? Saya kira, polisi tentu akan cukup detail menggali niat (motif) pelaku. Tetapi melihat bentuk gambar, disajikan dalam frame pin, bahkan andaikata dibuat poster lalu dipajang di ruang tamu, saya pribadi melihat tindakan itu sungguh hanya sebuah upaya menunjukkan kecintaan kepada hamba Allah yang paling dikasihi Allah SWT tersebut.

Kalau Anda berkunjung ke rumah-rumah teman di Kalimantan, khususnya Kalsel, Anda akan menemukan gambar-gambar Tuan Guru KH Zaini (guru Ijai), seorang ulama yang sangat dihormati dan dicintai masyarakat Kalsel. Mengapa mereka memasang gambar-gambar Guru Ijai? Jawabannya jelas, mereka sangat menghormati dan mengasihi tuan guru yang dinilai kharismatis itu.

Kalau Anda berkunjung ke rumah-rumah teman yang bermazhab Syiah, maka Anda akan menemukan gambar Imam Khomeini dan/atau Imam Ali Khameinei di ruang tamu. Alasan pemasangan gambar-gambar ini, saya kira, sama saja sebagai bentuk penghormatan dan wujud kecintaan mereka kepada ulama yang mereka kagumi.

Bahkan, konon di kalangan masyarakat Iran, masalah pemasangan gambar yang diyakini sebagai gambar Nabi Muhammad saw ini sudah umum berlaku. Seperti gambar Imam Khomeini, Imam Ali Khameini, Imam Husain as, Imam Ali as, gambar yang diyakini gambar Nabi saw itu mereka pasang di rumah atau disimpan dalam saku atau disematkan di dada kemeja dengan tujuan mengambil berkah. Penghormatan simbolik demikian memang merupakan ciri khas perilaku masayarakat awam Iran, bahkan telah mentradisi dan menjadi bagian dari kultur masyarakat di sana.

Pada titik ini, pin bergambar Nabi saw mesti dilihat dari dua perspektif: hukum dan budaya. Secara hukum keagamaan (fikih), ia masih berpeluang untuk diperdebatkan haram dan tidaknya karena dasar utamanya adalah unsur “penghinaan”. Artinya, soal halal dan haramnya menggambar Nabi saw tentu bisa didiskusikan. Dan kalau kita mau mengedepankan argumen, bukan sentimen dan dogma sektarian, boleh jadi pengharaman itu merupakan kesimpulan yang bisa dipertanyakan, karena sejumlah alasan. Salah satunya adalah gambar Nabi saw bisa jadi dibuat berdasarkan ciri-ciri fisik beliau yang termaktub dalam banyak riwayat, sehingga gambar itu tidak lebih dari sebuah skesta. Dan, akhirnya, tentu berpulang kepada keyakinan orang per orang apakah meyakini gambar itu sebagai gambar Nabi saw atau bukan.

Namun, secara kultural, apapun yang mengarah kepada visualisai Nabi Muhammad saw tidak bisa diterima oleh masyarakat Muslim di Indonesia. Sudah menjadi dogma yang telah terbentuk secara turun temurun, bahwa wajah Nabi Muhammad SAW tidak akan bisa digambarkan oleh siapapun selamanya, dan bila dilakukan maka itu adalah kelancangan dan penistaan terhadap beliau. Sampai kapan? Wallahu a’lam…..

copas: Bertahan Hidup Saat Gempa

Saat terjadi gempa berkekuatan 6,2 skala richter pada Jumat (16 Oktober) pukul 16.52 WIB, saya sedang bekerja di lantai 2. Beberapa rekan panik dan langsung lari ke tangga, lalu keluar kantor. Dulu, saya jug ikut2an seperti itu. Tetapi, saat gempa terakhir, saya dan seorang teman berupaya tenang.

Saya perhatikan lampu gantung berayun-ayun. Saya amati dinding dan plafon tidak ada tanda-tanda retak. Kepala memang terasa pusing, tetapi saya mencoba bertahan, sambil bersiap masuk ke bawah meja, tepatnya rebah di samping meja, jika keadaan memburuk. Tetapi, alhamdulillah, gempa segera reda. Teman2 kemudian masuk kembali ke kantor dan bertanya, kenapa tidak turun dan keluar kantor?

“Saya kemarin baru baca artikel Dough Copp, dan saat gempa tadi saya melakukan tip yang dia anjurkan. Tip ini mungkin akan lebih relevan bagi teman2 yang bekerja di lantai yang lebih tinggi. Lari sambil berdesakan melalui tangga darurat dari lantai 10 atau 20 sungguh sia-sia,” kata saya sambil memperlihatkan artikel tersebut.

Artikel ini berasal dari milis tetangga. Penulisnya dengan rendah hati menyarankan siapapun menyebarluaskan artikel ini agar bisa menjadi panduan saat terjadi gempa. Berikut ini artikel Dough Copp selengkapnya. Semoga berguna, dan semoga Dough Copp mendapat ganjaran yang baik dari Tuhan Yang Maha Esa atas kebaikannya berbagi info penting ini.

Segitiga Kehidupan Saat Terjadi Gempa

Oleh: Doug Copp *)

Pengalaman Saya telah merangkak di bawah 875 reruntuhan bangunan, bekerja sama dengan tim penyelamat dari 60 negara, dan mendirikan tim penyelamat di beberapa negara serta salah satu dari ahli PBB untuk Mitigasi Bencana selama 2 tahun. Saya telah bekerja di seluruh bencana besar di dunia sejak tahun 1985. Pada tahun 1996 kami membuat film yang membuktikan keakuratan metode bertahan hidup yang saya buat.

Percobaan Kami meruntuhkan sebuah sekolah dan rumah dengan 20 boneka di dalamnya. 10 boneka “menunduk dan berlindung” dan 10 lainnya menggunakan metode bertahan hidup “segitiga kehidupan”.

Setelah simulasi gempa, kami merangkak ke dalam puing-puing dan masuk ke dalam bangunan untuk membuat dukumentasi film mengenai hasilnya. Film itu menunjukkan bahwa mereka yang menunduk dan berlindung tidak dapat bertahan hidup dan mereka yang menggunakan metode saya “segitiga kehidupan” bertahan hidup 100%.

Film ini telah dilihat oleh jutaan orang melalui televisi di Turki dan sebagian Eropa, dan disaksikan pada program televisi di USA, Canada dan Amerika Latin.

Fakta Bangunan pertama yang saya masuki adalah sebuah sekolah di Mexico City pada gempa bumi tahun 1985. Semua anak berlindung di bawah meja masing-masing. Semua anak remuk sampai ke tulang mereka. Mereka mungkin dapat selamat jika berbaring di samping meja masing-masing di lorong.

Pada saat itu, murid-murid diajarkan untuk berlindung di bawah sesuatu.

Teori segitiga kehidupan Secara sederhana, saat bangunan runtuh, langit-langit akan runtuh menimpa benda atau furniture sehingga menghancurkan benda-benda ini, menyisakan ruangan kosong di sebelahnya. Ruangan kosong ini lah yang saya sebut “segitiga kehidupan”. Semakin besar bendanya, maka semakin kuat benda tersebut dan semakin kecil kemungkinannya untuk remuk.

Semakin sedikit remuk, semakin besar ruang kosongnya, semakin besar kemungkinan untuk orang yang menggunakannya untuk selamat dari luka-luka..

Amati Suatu saat anda melihat bangunan runtuh di televisi, hitunglah “segitiga kehidupan” yang anda temui. Segitiga ini ada di mana-mana dan merupakan bentuk yang umum.

Sepuluh (10) Tip dalam Keselamatan Gempa Bumi :

1. Hampir semua orang yang hanya “menunduk dan berlindung” pada saat bangunan runtuh meninggal karena tertimpa runtuhan. Orang-orang yang berlindung di bawah suatu benda akan remuk badannya.

2. Kucing, anjing dan bayi biasanya mengambil posisi meringkuk secara alami. Itu juga yang harus anda lakukan pada saat gempa. Ini adalah insting alami untuk menyelamatkan diri. Anda dapat bertahan hidup dalam ruangan yang sempit. Ambil posisi di samping suatu benda, di samping sofa, di samping benda besar yang akan remuk sedikit tapi menyisakan ruangan kosong di sebelahnya.

3. Bangunan dari kayu adalah tipe konstruksi yang paling aman selama gempa bumi. Kayu bersifat lentur dan bergerak seiring ayunan gempa. Jika bangunan kayu ternyata tetap runtuh, banyak ruangan kosong yang aman akan terbentuk. Disamping itu, bangunan kayu memiliki sedikit konsentrasi dari bagian yang berat. Bangunan dari batu bata akan hancur berkeping-keping. Kepingan batu bata akan mengakibatkan luka badan tapi hanya sedikit yang meremukkan badan dibandingkan beton bertulang.

4. Jika anda berada di tempat tidur pada saat gempa terjadi, bergulinglah ke samping tempat tidur. Ruangan kosong yang aman akan berada di samping tempat tidur. Hotel akan memiliki tingkat keselamatan yang tinggi dengan hanya menempelkan peringatan di belakang pintu agar tamu-tamu berbaring di lantai di sebelah tempat tidur jika terjadi gempa.

5. Jika terjadi gempa dan anda tidak dapat keluar melalui jendela atau pintu, maka berbaring lah meringkuk di sebelah sofa atau kursi besar.

6. Hampir semua orang yang berada di belakang pintu pada saat bangunan runtuh akan meninggal. Mengapa? Jika anda berdiri di belakang pintu dan pintu tersebut rubuh ke depan atau ke belakang anda akan tertimpa langit-langit di atasnya. Jika pintu tersebut rubuh ke samping, anda akan tertimpa dan terbelah dua olehnya. Dalam kedua kasus tersebut, anda

tidak akan selamat!

7. Jangan pernah lari melalui tangga.
Tangga memiliki “momen frekuensi” yang berbeda (tangga akan berayun terpisah dari bangunan utama). Tangga dan bagian lain dari bangunan akan terus-menerus berbenturan satu sama lain sampai terjadi kerusakan struktur dari tangga tersebut. Orang-orang yang lari ke tangga sebelum tangga itu rubuh akan terpotong-potong olehnya. Bahkan jika bangunan tidak runtuh, jauhilah tangga. Tangga akan menjadi bagian bangunan yang paling mungkin untuk rusak. Bahkan jika gempa tidak meruntuhkan tangga, tangga tersebut akan runtuh juga pada saat orang-orang berlarian menyelamatkan diri.Tangga tetap harus diperiksa walaupun bagian lain dari bangunan tidak rusak.

8. Berdirilah di dekat dinding paling luar dari bangunan atau di sebelah luarnya jika memungkinkan. Akan lebih aman untuk berada di sebelah luar bangunan daripada di dalamnya. Semakin jauh anda dari bagian luar bangunan akan semakin besar kemungkinan jalur menyelamatkan diri anda tertutup.

9. Orang-orang yang berada di dalam kendaraan akan tertimpa jika jalanan di atasnya runtuh dan meremukkan kendaraan; ini yang ternyata terjadi pada lantai-lantai jalan tol Nimitz. Korban dari gempa bumi San Fransisco semuanya bertahan di dalam kendaraan mereka & meninggal. Mereka mungkin dapat selamat dengan keluar dari kendaraan dan berbaring di sebelah kendaraan mereka. Semua kendaraan yang hancur memiliki ruangan kosong yang aman setinggi 1 meter di sampingnya, kecuali kendaraan yang tertimpa langsung oleh kolom jalan tol.

10. Saya menemukan, pada saat saya merangkak di bawah kantor perusahaan koran dan kantor lain yang menyimpan banyak kertas bahwa kertas tidak memadat. Ruangan kosong yang besar ditemukan di sekitar tumpukan kertas-kertas.

Sebarkan informasi ini dan selamatkan nyawa orang yang anda cintai. Terima kasih….

*)Doug Copp, Kepala Penyelamat dan Manajer Bencana dari American Rescue Team International (ARTI),

sindroma AIDS

oleh irfan darsina

Pada 17 – 19 Oktober ini, syndrome AIDS (aku ingin ditelepon SBY) kembali merebak. Untuk beberapa menteri Kabinet Indonesia Bersatu (2004-2009) yang sudah hampir pasti terpilih kembali, syndrome AIDS tentu tak terjadi. Mereka ini sebutlah Sudi Silalahi, Hatta Rajasa, Sri Mulyani Indrawati, Hassan Wirayudha, Muhamad Nuh, Meutia Hatta. Mereka orang dekat dan/atau memiliki interigritas yang memenuhi standar SBY.

Sejumlah tokoh muda yang dekat atau mendapat apresiasi Presiden terpilih dan hampir pasti masuk dalam jajajaran KIB jilid 2, mungkin juga tak terkena syndrome AIDS. Mereka ini di antaranya Andi Mallarangeng, Chatib Bisri, Anis Baswedan, yang memiliki potensi besar dan prospek cerah dalam keberlanjutan kepemimpinan bangsa.

Syndrome AIDS, hemat saya, merebak di kalangan tokoh-tokoh parpol yang nama-namanya sudah masuk ke Cikeas. Lewat media massa, kita tahu, PKS misalnya mengusulkan 8 nama calon untuk berbagai posisi menteri. Yach namanya juga usaha. PPP, PKB, PAN, bahkan Golkar di bawah Ical dan PDI-P sayap TK, juga punya kader-kader yang selalu siap menduduki posisi menteri. Mereka yang diusulkan parpol-parpol inilah yang bisa kita bayangkan sedang panas dingin oleh sindroma AIDS tersebut.

Dan, untuk menyorot (calon) menteri dari Parpol inilah note ini dibuat. Koalisi parpol memang mengharuskan power sharing yang secara riil diwujudkan dalam komposisi menteri kabinet. Sejumlah parpol peserta koalisi otomatis mendapat kursi menteri, bukan saja sebagai buah dari kontribusi perjuangan memenangkan koalisi, tetapi juga sebagai perekat ikatan koalisi yang lebih permanen, minimal hingga 5 tahun, ke depan. Parpol yang kadernya duduk di kursi kabinet karena itu (seharusnya) mendukung semua policy pemerintah. Tetapi das sollen itu tidak berlaku di Indonesia.

Mengamati kiprah KIB jilid 1 (2004-2009), kita menyaksikan ada anomali dalam pelaksanaan konsep koalisi di neeri ini. Parpol yang bergabung dalam koalisi masih doyan mengkritik policy pemerintah. Dalam suatu perdebatan di sebuah stasiun TV, kader PDIP (Tjahjo Kumolo atau Pramono Anung, saya lupa) mengkritik kader PKS yang dalam acara itu mengkritisi kebijakan SBY. “Lho, Anda itu bagian dari pemerintah, Anda mestinya berada pada posisi membela kebijakan pemerintah. Bukannya mengkritisi pemerintah,” sindir Tjahjo atau Pram, sementara si kader PKS hanya tersenyum masam.

PKS, dan saya kira parpol lain juga, beralasan bahwa mereka adalah mitra yang kritis. “Kalau pemerintah melakukan kesalahan, kami wajib mengkritisi. Itu bagian dari amar ma’ruf nahi munkar,” begitu kira2 alasan mereka.

Yach, begitulah, “amar ma’ruf nahi munkar” menjadi jualan mereka di media massa. Mungkin kita bisa faham jika kader parpol peserta koalisi itu sungguh2 mengkritisi kesalahan pemerintah. Tetapi, anak SD juga tahu, kesalahan pemerintah dan policy pemerintah itu dua hal yang berbeda. Kalau anak SD tahu, mestinya kader parpol peserta koalisi di Senayan juga tahu, kecuali jika mereka –seperti kata Gus Dur—masih tidak lebih dewasa dari anak TK. Kalo sdh begini, yach, bukan salah bunda mengandung, salah parpol menghasilkan kader2 o’on.

Kita ambil contoh, policy pemerintah soal BLT. Lepas dari kelemahan atau kelebihan yang melekat dalam Program BLT, seluruh peserta koalisi wajib mendukung policy itu. Itu keputusan pemerintah, dan itu mengikat seluruh elemen pemerintah. Sangat aneh karena itu jika ada parpol peserta koalisi mengkritisi BLT sebagai policy pemerintah. Bahwa, misalnya, ada penyimpangan dalam pelaksanaan BLT di lapangan, ada pejabat yang menyalahgunakan dana BLT, nah itu tentu wajib dikritisi oleh semua, termasuk kader parpol peserta koalisi sekalipun. Adapun terhadap policy pemerintah, hanya oposisi (di samping media massa, LSM, dan rakyat banyak) yang berhak mengkritisi. Kalau kader parpol koalisi ikut2an mengkritisi policy pemerintah, itu sama saja dengan melempar feses ke wajah ketua parpol sendiri.

Sikap kritis para kader parpol peserta koalisi di Senayan secara hantam kromo seringkali menjadi salah satu faktor yang mengurangi efektivitas jalannya pemerintahan. Artinya, meski mereka parpol peserta koalisi pemerintah, di Senayan mereka tetap beroposisi. Masih hangat dalam benak kita, bagaimana para koboi Senayan menjegal Agus Martowardojo dan Raden Pardede, dua calon Gubernur BI yang diajukan Presiden SBY tahun 2008 lalu. Itu terjadi karena kader parpol peserta koalisi justru bersikap sebagai oposisi.

Apakah hal semacam itu tidak akan terulang pada periode 2009 - 2014? Saya skeptis. Para koboi Senayan tetaplah akan menjadi koboi. Sekali koboi selamanya koboi. Susah bagi kita mengharapkan ada semacam koherensi sikap antara keterlibatan kader parpol peserta koalisi di kabinet dengan gaya koboi politisi Senayan dari parpol yang sama. Lalu apa?

Presiden terpilih SBY harusnya lebih berani bersikap tegas dalam membatasi menteri parpol peserta koalisi. Apapun parpolnya, berapapun kontribusinya dalam pemenangan Pilpres, setiap parpol mestinya cukup diberi jatah satu kursi, kecuali tentu Partai Demokrat. Sebab, di luar Partai Demokrat, berapapun jumlah kursi yang diberikan untuk kader suatu parpol, maka hampir pasti kader2 parpol yang sama di Senayan tetap akan mengkritisi pemerintah, menggoyang pemerintah, bahkan (kalau mungkin) meng-impeach Presiden. Dan hanya kader Partai Demokrat yang, berdasarkan pengalaman 5 tahun lalu, konsisten bersikap sebagai parpol pendukung pemerintah.

Memberi banyak kursi kabinet pada kader parpol tampaknya akan sia-sia. Sejarah lima tahun terakhir akan berulang. Akan lebih bagus bagi pemerintahan ke depan jika kabinet diisi oleh para profesional. Pemerintah membutuhkan kemampuan mereka untuk mengendalikan ulah para koboi Senayan. Media massa, saya kira, bisa memberitakan ’pertarungan’ mereka secara tidak memihak. Dan, rakyat sudah cerdas untuk memilah dan menilai apakah pemerintah ataukah anggota parlemen yang brengsek. Rakyat hanya ingin dan berharap ada efek positif dari pemerintahan SBY dan kabinetnya dalam peningkatan kesejahteraan mereka, pemenuhan rasa keadilan, dan jaminan rasa aman, pada 5 tahun ke depan.

Jika harapan rakyat itu tidak terpenuhi, SBY dan Boediono hanya akan mencatat sejarah sebagai Presiden dan Wakil Presiden yang (kembali) mengecewakan rakyat. Wallahu a’lam.

Demo di JP: Testimoni yang Tersisa

Seorang teman di milis membuat testimoni ttg kejadian Rabu (2/9/2009) siang di kantor harian Jawa Pos di Surabaya. Kita semua ingat, hari itu, selain guncangan gempa yang melanda Jawa bagian barat, sekelompok orang, satu di antaranya seorang guru besar sejarah, mengguncang Jawa Pos dengan aksi demo. Teman yang membuat testimoni ini bukan wartawan JP. Ia juga bukan karyawan JP Group. Ia hanya kebetulan berada di tempat yang benar pada waktu yang benar: menyaksikan sebuah aksi vandalisme, sekelompok kecil orang mengatasnamakan umat Islam dan membakar buku, persis yang dilakukan kaum barbar Mongol yang membakar buku2 dan peradaban Islam sekitar 850 tahun lalu di Baghdad.

Saya tidak sebut nama teman itu di sini karena saya khawatir dia keberatan atau akan mengganggu hubungan dia dengan pihak tertentu. Saya mengutip beberapa paragrap tulisannya di sini tanpa izin dia. Tak ada niat lain dalam diri saya melakukan ini kecuali karena melihat bahwa testimoni ini cukup berarti memberi sisi lain dari pemberitaan media mainstream yang, yach, begitulah.

Teman itu megawali tulisannya dengan gaya sedikit puitis, berima, dan asyik.
Rabu siang,
sebuah ruangan di Graha Pena penuh sesak oleh tamu-tamu tak diundang.
Jumlah mereka ada sekitar 40-an orang.
Mereka ditemui Pemred Jawa Pos, Leak Kustiya, dan beberapa redaktur bidang
Setelah basa-basi, para tamu mulai teriak-teriak. Mereka membaca apa yang disebut ‘deklarasi’ kekecewaan terhadap Dahlan Iskan, CEO Jawa Pos, yang dinilainya telah ‘menjadi corong PKI” karena mewawancarai tokoh PKI dalam Kudeta di Madiun 1948, Sumarsono. Sebelumnya, mereka (dan sejumlah massa lainnya telah teriak-teriak di luar ruangan). Sambil membaca ayat-ayat al Quran, mereka mengecam Dahlan Iskan, kemudian membakar koran Jawa Pos dan buku “Revolusi Agustus” tulisan Sumarsono. Intinya, mereka menuntut Dahlan Iskan minta maaf, juga Jawa Pos Group, karena — katanya — Jawa Pos dan Dahlan Iskan telah menyakiti umat Islam yang mereka wakili. Permintaan maaf harus dimuat di halaman depan Jawa Pos.

Saya enggak tahu, mereka mewakili umat Islam yang mana. Sebagai salah satu umat Islam, saya harus katakan, mereka tidak mewakili saya. Selanjutnya, teman tadi menulis:

Mereka ‘mengadili’ Leak Kustiya. “Maukah Anda bertobat? ini bulan puasa lho. Apakah Anda mengaku bersalah dan bersedia minta maaf?” Leak Kustiya, dengan gayanya yang tenang menjawab, antara lain, mengucapkan terima kasih atas penyampaian aspirasi terhadap tulisan di JP. Dia juga mengatakan, semua aspirasi akan disampaikan kepada Pak Dahlan. Ia juga mengatakan, apa yang disampaikan mereka akan dimuat di JP sebagai imbangan tulisan tentang Sumarsono. Tetapi mereka menuntut Dahlan Iskan harus dihubungi ’sekarang juga’.Mereka sebut itu mudah karena alat komunikasi sekarang sudah canggih. dan seorang pemred pasti mudah menghubungi bosnya. Mereka tak menggubris setiap upaya Leak untuk berbicara, dan terus menekan untuk ’sekarang juga’ membuat pernyataan tertulis bahwa Jawa Pos akan minta maaf, juga Dahlan Iskan, dan harus dimuat
di Jawa Pos halaman depan, tiga hari berturut-turut.

Selanjutnya, teman tadi membuat testimoni menarik tentang sang Guru besar sejarah.

Prof Aminuddin Kasdi, mengatakan, dia mendampingi para pendemo tersebut. Dalam wawancara-wawancara kemudian, dia banyak menyanggah apa yang disampaikan Sumarsono. Kepada Jawa Pos, profesor sejarah itu mengatakan bahwa ’sejarah memang milik orang-orang yang menang”. Sumarsono sebagai orang dari pihak yang kalah, tak berhak atas sejarah.Itu pendapat dari profesor sejarah, lo, bukan orang awam di pinggir jalan.

Hal lain dari testimoni ini yang menarik adalah pemberitaan media ttg demo itu. Kawan tadi menulis:

Sebagian berita tentang demo di Jawa Pos kurang tepat, untuk tidak menyatakan banyak menyeleweng. Ada jurnalis yang menulis Leak Kustiya, Pemred Jawa Pos, minta maaf atas tulisan Dahlan
Iskan. Jurnalis yang bersangkutan tampaknya harus lebih banyak belajar memperhatikan kata-kata sumber berita. Tidak ada pernyataan permintaan maaf atas tulisan Dahlan Iskan. Ketika ia
ditanya: apakah sebagai seorang muslim, Leak mau bertobat? Dia kemudian menjawab, ia tentu bertobat atas kesalahan-kesalahannya, apalagi di bulan ramadhan. Leak cerdik. Ia sama
sekali tidak mengaitkan tobatnya dengan berita Sumarsono. Dia juga tidak mengisyaratkan kesalahan Jawa Pos menurunkan tulisan Dahlan Iskan. Bahwa kata-katanya bersedia tobat diinterpretasikan sebagai tobatnya Pemred JP terkait berita Sumarsono yang memang jadi tanggungjawabnya, barangkali akan menyenangkan hati orang2 yang mengharapkan hal itu. Tetapi, bahwa ada wartawan yang juga menangkap hal itu sebagai pengakuan salah dalam pemberitaan tersebut, yach, wartawan itu patut dikasihani. Hanya saja, berita sang wartawan itu telah mengecoh banyak pembacanya.

Testimoni kawan ini ada benarnya. Faktanya, Leak memang tidak memenuhi tuntutan agar JP minta maaf. Dan juga fakta, dalam edisi2 JP pasca demo itu memang tidak pernah ada permintaan maaf. JP hanya memenuhi janjinya untuk memuat tulisan keberatan, sesuai kaidah hak jawab, dari para pendemo yang setara dengan tiga tulisan Dahlan Iskan. Ada tiga seri tulisan yang dimuat Jawa Pos di space yang sama yang isinya meng-counter tulisan Dahlan Iskan.

Seperti bisa kita baca pada tiap edisi JP tiga hari berikutnya, artikel counter itu sama sekali tak ada yang baru. Isinya sekadar ringkasan dari versi sejarah resmi yang bisa kita temukan di buku sejarah yang diajarkan di sekolah. Tetapi, satu hal menarik hemat saya adalah kutipan dari Profesor sejarah tentang ”Sejarah adalah milik para pemenang”.

O iya, itu memang bukan kutipan baru. Tetapi, setahu saya, selama ini kutipan itu digunakan untuk mengkritik kecenderungan historiografi yang memang selalu cenderung berpihak kepada para pemenang. Adalah aneh, bagi saya, seorang guru besar sejarah justru menggunakan statement itu untuk membungkam suara pihak yang kalah. Maksud saya, statemen itu ada benarnya, tetapi sama sekali bukan alasan pembenar untuk membungkam suara mereka yang kalah dalam penulisan sejarah. Statemen itu sejatinya menyemangati pihak yang kalah untuk menulis sejarah versi mereka sendiri sebagai balance terhadap sejarah milik para pemenang. Harusnya begitu…

Teman yang membuat testimoni itu membuat rumusan menarik saat mengomentari statemen Prof Kasdi itu.

Barangkali tak pernah terbersit dalam benak Prof Kasdi bahwa sejarah akan menulis dirinya sendiri. Sejarah ibarat air dari mata air. Air itu dapat dibendung, dibelok-belokkan ke mana pun tetapi pada akhirnya akan turun ke laut. History writes itself.

Wallahu a’lam.

selimut bima

Saya kira, kita dan hanya kita yang menolong bangsa kita keluar dari kertepurukan dan kertegantungan berkepanjangan pada bangsa asing. Dan itu harus dimulai, baik oleh diri sendiri, keluarga, tempat kerja, terlebih lagi BUMN dan Instansi pemerintah.

oleh irfan darsina

Rabu (12 Agustus) sore, saya berangkat ke Surabaya naik kereta api Bima. Kereta meninggalkan stasiun Gambir, Jakarta, pukul 17.15, telat 15 menit dari jadwal. Masih mending telatnya tidak lebih dari 1 jam, seperti sering terjadi pada KA ekonomi Penataran yang biasa saya tumpangi juusan Malang - Surabaya.

Saat saya mulai menulis note ini, kereta baru saja meninggalkan stasiun Cirebon. Jam menunjuk angka 20.20. Beberapa menit sebelumnya saya sempat tertidur, dan terbangun saat kereta berhenti di stasiun utk menurunkan dan menaikkan penumpang. Saat kereta mulai bergerak, saya naikkan selimut untuk menutupi dada. Udara terasa makin dingin menusuk kulit saya yang hanya mengenakan kaos oblong dan lupa membawa jaket. Saat tangan saya menaikkan selimut itu, jari-jari saya menyentuh bagian selimut, quilt, yang agak keras. Dengan rasa ingin tahu saya dekatkan bagian yang teraba jari tadi ke depan mata, dan tiba2 saya ingat mantan capres Jusuf Kalla. Apa hubungan selimut Bima dg Pak Jusuf Kalla?

Sabar, saya ingin deskripsikan dulu selimut yang disediakan PT KAI sebagai fasilitas untuk penumpang ini. Selimut ini unik. Di bagian tertentu dipasangi risleting. Saat tidak digunakan, selimut dilipat kemudian dikunci dengan risleting itu, sehingga tinggal sebentuk bantal anak kecil. Saat akan digunakan, risleting dibuka, dan selimut pun merak. Praktis memang. Anda yg biasa naik kereta Bima tentu familiar dg selimut ini.

Nah kembali ke bagian selimut yang agak keras yang terpegang tangan saya tadi. Oya selimut ini lembut sehingga saat terpegang bagian yang keras, rasa heran saya langsung bereaksi. Ternyata itu sulaman yang ada di salah satu bagian selimut. Ada tiga sulaman.
Pertama sulaman lambang PT KAI.
Kedua, sulaman logo restoka.
Ketika sulaman cap atau merek pembuat selimut.

Dan, olala, di situ tertulis begini: Quilting by HILON, Korean Brand Since 1970.
Itu sebabnya saya tiba2 ingat mantan capres Jusuf Kalla. Bayangan saya, jika beliau yang skrg masih menjabat sbg Wapres ini mengetahui utk sekadar selimut saja, sebuah BUMN ternyata memakai produksi LN, maka pastilah beliau akan menegur manajemen PT KAI. Lha po pake produksi LN sedang industri garmen atau pabrik tenun kita pasti mampu membuat produk serupa. Soal harga tentu harus bersaing.

Sekarang mari kita berhitung. Saya taksir harga selimut ini sekitar Rp 100 ribu per lembar. Ini taksiran yang abitrer. Satu gerbong Bima berisi 50 seat. Satu rangkaian kereta Bima berisi rata-rata 8 gerbong. Jadi satu rangkaian kereta Bima berisi sekitar 400 seat. Utk satu rangkaian kereta Bima yang saya tumpangi ini, PT KAI hrs mengalokasikan anggaran selimut sekitar Rp 40 jt.

Kita tahu, pada saat yang sama, ada rangakaian KA Bima lain yangs sedang melaju dari Surabaya menuju Jakarta. Alhasil, ada dua rangkaian kereta Bima. Rangkaian kereta Argo Bromo ada empat. Rangkaian kereta Turangga, Taksaka, Argo Lawu, Argo Sindoro, Argo Wilis, masing2 dua. Secara hitungan kasar, ada ribuan seat kereta eksekutif yang difasilitasi selimut. Saya tidak tahu, tetapi jika ada 2.500 seat yang dilengkapi selimut, maka PT KAI minimal menyediakan anggaran Rp 250 jt utk beli selimut doang.

Saya juga tdk tahu apakah semua kereta eksekutif menggunakan selimut buatan
Korea itu? Kalau iya, berarti sekitar US$ 25 ribu devisa dihamburkan hanya utk selimut, yg perusahaan garmen ato pabrik tekstil mana saja di Tangerang, Bandung, Tasikmalaya, Surakarta, atau Bangil, bisa membuatnya.

Sebentar, ini bukan soal nilai yg ‘hanya’ US $ 25 ribu itu semata. Ini soal rasa kebangsaan yang mestinya dimiliki oleh setiap insan Indonesia, terlebih pengelola BUMN, terlebih lagi di tengah krisis finansial global yang semua negara melakukan proteksi scr bervariasi. Dan, satu hal pasti, US$ 25 rb itu setara dengan jatah tempe 100 ribu KK miskin di tanah air.

Dalam situasi krisis seperti skrg, kesadaran utk mengutamakan produk dalam negeri, terutama utk produk yg bisa dibuat bangsa sendiri, saya kira, tak bisa ditawar2. Itulah langkah minimal yg bisa kita lakukan, seraya terus berupaya sebagai bangsa membuat produk2 teknologi canggih atau menggunakan perangkat teknologi canggih, seperti panser buatan pindad, kapal buatan pt pal, obat buatan Indofarma, jamu buatan Sidomuncul, dan mungkin juga bertransaksi di bank-bank BUMN atau swasta nasional (bukan bank swasta asing yang sekarang menjamur di Indonesia, ibarat jerawat di musim puber).

Saya kira, kita dan hanya kita yang menolong bangsa kita keluar dari kertepurukan dan kertegantungan berkepanjangan pada bangsa asing. Dan itu harus dimulai, baik oleh diri sendiri, keluarga, tempat kerja, terlebih lagi BUMN dan Instansi pemerintah.


Sebab, kalau bukan kita, siapa lagi?
Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

holier than thou

Holier than thou atau ana khoirun minhu adalah ungkapan simbolik sebuah kesombongan, sebongkah arogansi, setumpuk keangkuhan. Sosok yang paling gampang dikenali dari sifat ketakaburan. Konon, kata seorang guru, sifat takabur merupakan derajat terendah kemurtadan.

Oleh irfan darsina

Gara-gara menyebut Mirza Ghulam Ahmad, pendiri ahmadiyah, sebagai tukang sulap, dan menduga mayoritas pengikut ahmadiyah adalah mereka yang terbuai sulap mirza, saya dikritik seorang teman telah bersikap holier than thou. Secara reaktif, saya langsung membantah. Sempat terjadi perdebatan ramai antara dia dan saya di blog publik politikana.com. Tetapi, sungguh, jauh dalam pikiran saya, saya pun me-review lagi pandangan dan sikap keagamaan saya. Saya khawatir, kritik atau tudingan teman itu boleh jadi ada benarnya.

Bagi pengikut agama samawi, istilah holier than thou berakar jauh pada masa awal penciptaan manusia. Kitab suci agama samawi bertutur tentang kisah iblis yang menolak Perintah Tuhan untuk bersujud di hadapan Adam. Iblis menolak perintah Tuhan karena merasa kualitasnya lebih baik dari Adam: Ana khoirun minhu. “Aku lebih baik dari dia,” kata iblis. Iblis diciptakan dari api, sedang Adam dari tanah.

Holier than thou atau ana khoirun minhu adalah ungkapan simbolik sebuah kesombongan, sebongkah arogansi, setumpuk keangkuhan. Sosok yang paling gampang dikenali dari sifat ketakaburan. Konon, kata seorang guru, sifat takabur merupakan derajat terendah kemurtadan.

Dari mana pandangan dan sikap holier than thou itu berasal? Sikap semacam ini berawal dari ilusi atau khayalan bahwa dirinya memiliki keunggulan. Ditambah dengan sedikit sifat cinta diri dan bangga diri, maka yang menonjol hanyalah keunggulan dirinya, sedang kelebihan orang lain sama sekali tertutup dari pandangannya. Dengan begitu, dia menempatkan orang lain menjadi lebih rendah, lebih buruk, lebih hina dibanding dirinya.

Cilakanya, sifat holier than thou tidak selalu berbanding terbalik dengan ketinggian akal kecerdasan, kedalaman keilmuan, bahkan keberlimpahan amalan. Para filsuf, ilmuwan, alim ulama, bahkan pengikut tasawuf sekalipun, berpeluang terjebak dalam sikap ana khoirun minhu. Apatah lagi diri kita yang awam. Iblis yang selama ribuan tahun sebelumnya menjadi hamba Tuhan yang sangat taat pun bisa bersikap holier than thou hanya karena ilusi bahwa api lebih mulia dari tanah….

Pertanyaannya, apakah sikap dan pandangan holier than thou mutlak haram? Mari kita berandai-andai. Andaikata, ketika Tuhan memerintah iblis bersujud dihadapan Adam as, misalnya iblis berkata ”sebetulnya aku lebih baik dari dia, tetapi karena perintah-MU, aku rela bersujud padanya” apakah kira-kira iblis tetap akan diusir dari surga? Hal ini tentu dengan catatan, bahwa memang kualitas api (asal iblis) lebih baik dari tanah (asal Adam) dan bukan sekadar khayalan iblis doang.

Pada titik ini, sebetulnya kita melihat sikap atau pandangan holier than thou berada pada dua level: dalam sikap takabur itu sendiri dan akibat dari sikap takabur itu..

Pada level akibat, sikap holier than thou sangat berbahaya dan sangat merugikan, baik dirinya maupun orang lain. Dalam kasus iblis versus Adam, justru akibat sikap takabur: membangkang perintah Tuhan, kerugiannya menjadi sangat besar. Kita tahu, kerugian itu dirasakan iblis yang terusir dari surga, dan juga diderita Adam (dan anak cucunya) karena iblis menyimpan dendam hingga akhir zaman.

Sedang di dalam dirinya, sikap takabur sungguh tidak membawa kebaikan apapun. Takabur karena itu disebut sebagai salah satu penyakit hati. Bahkan manusia tidak akan mencium bau surga jika masih ada setitik sikap takabur dalam hatinya.

Akan tetapi, kita pun rupanya harus bisa memilah-milah antara sikap holier than thou yang didorong ilusi keunggulan dengan keyakinan diri yang muncul atas dasar nilai kebenaran. Orang kadang salah menilai karena tidak bisa membedakan antara sikap holier than thou dengan keyakinan pada kebenaran tersebut.

Kembali kepada contoh kasus sikap kepada Ahmadiyah. Sepanjang pengikut Ahmadiyah meyakini Mirza sebagai nabi dan ajarannya adalah Islam, saya termasuk yang berkeyakinan Ahmadiyah sesat. Dalam perspektif Islam, kebenaran diukur dari Al Quran dan Sunnah Rasul saw, dan tak ada satupun dari keduanya yang membenarkan nabi setelah Muhammad saw. Anggapan msh ada nabi setelah Muhammad terjadi karena tafsir yg menyimpang, dan penyimpangan tafsir merupakan awal dari penyimpangan ajaran.

Saya tetap yakin Islam sebagai agama paling benar, dan Mirza tak punya hak menyimpangkan ajaran ini seenak udelnya. Mirza boleh mengklaim dapat mukjizat, tetapi dalam keyakinan saya akan kebenaran Islam, apa yang disebut mirza mukjizat itu tidak lebih dari sekadar sulap. Christ Angel, David Blain, Dedy Corbuzier, bahkan Limbard pun punya kemampuan sulap seperti itu, tetapi mereka tidak mau berimprovisasi mendirikan sekte baru. Andai para pesulap itu mau, saya kira, akan cukup banyak orang yang tergoda menjadi pengikut Christ, David, Dedy atau Limbard. Terbukti, Lia Aminudin juga punya sedikit kemampuan sulap itu, dan berhasil mendirikan sekte baru dengan pengikutnya yang setia. Jika Mirza mengaku nabi dan ajarannya adalah mirza-isme, saya kira itu hak mirza, dan hak pengikutnya untuk memilih mempercayai klaimnya.

Tetapi, sekali lagi, Mirza mengklaim sebagai nabi dan datang menympurnakan Islam dengan sejumlah wahyu baru dan membuat kitab baru. Di sinilah pokok masalahnya. Keyakinan yang didukung pencapaian akal saya sudah final akan kebenaran Islam dengan Muhammad saw sebagai nabi dan rasul penutup, dan Al Quran sebagai Kitab Suci pamungkas. Tidak ada nabi dan kitab suci lain selain Muhammad saw dan Al Quran.

Dalam perdebatan, saya mungkin akan terkesan (sekali lagi, ini hanya kesan) bersikap holier than thou ketika berupaya mempertahankan keyakinan saya pada kebenaran nabi Muhammad saw dan Al Quran. Bahwa ajaran nabi Muhammad saw dengan kitab Al Quran adalah ajaran yang paling benar, paling baik, paling sempurna. Tetapi, hemat saya, sikap ini sah saja.

Satu hal yang akan menjadi sangat berbahaya adalah jika saya menggunakan ayat Al Quran dan hadits Nabi saw sebagai pisau yang menikam keyakinan orang lain, sehingga orang lain tak punya lagi kebebasan dan hak memilih dalam beragama. Sebab, saya meyakini, Tuhan memberikan kebebasan orang memilih agama. Tak ada paksaan dalam beragama: mereka yang mau, silakan beriman; mereka yang mau, silakan kafir.

Satu hal yang lebih berbahaya lagi jika saya merasa kualitas diri saya lebih baik daripada kualitas pengikut Lia Aminudin atau kualitas pengikut Ahmadiyah. Maksud saya, meski ajaran yang saya yakini benar dan sempurna, tidak otomatis membuat kualitas diri saya menjadi lebih baik atau lebih sempurna daripada kualitas orang lain dengan ajaran yang berbeda. Saya kira itulah hikmah yang bisa saya petik dari kritik teman yang saya ungkap di awal note ini. Wallahu a’lam.

sopir dan manajemen blue bird

Oleh irfan darsina

Selasa (4 Agustus) malam, saya dan seorang teman naik taksi Blue Bird dari sebuah gedung kantor di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Kami bermaksud menuju Jalan Ampera, juga di kawasan Jakarta Selatan. Jalur ini sudah sering kami lewati, dan tarif umumnya berkisar antara Rp 25 – 35 ribu, tergantung tingkat kelancaran lalin. Pernah sekali tarif jalur itu sampai Rp 41 ribu ketika kami terjebak macet musim kampanye lalu. Tetapi rata-rata ongkos taksi sekitar Rp 30 ribu sekali jalan.

Malam itu, selepas dari gedung, saya dan teman asyik membaca dan membalas SMS sehingga tidak memperhatikan jalan. Eee lhadalah, saat saya mulai menengok kiri kanan, saya baru sadar ini bukan jalan yang biasa kami lewati. “Kenapa lewat jalan ini,” saya tanya pengemudi BB dengan nomor taksi EA xxxx.

“Saya hanya tahu jalan ini, saya gak tahu jalan lain,” katanya.

Perasaan saya langsung tidak enak. Saya terus ‘menginterogasi’ dia. Dia mengaku baru bekerja di BB selama 6 bulan, dan jarang beroperasi di Jaksel. Dia hanya tahu jalan ini menuju Ampera. Saya semula hampir percaya, dan nrimo saja penjelasannya, tetapi hiu kecil di kepala saya tidak berhenti bergerak. Saya coba kejar lagi, apa betul dia baru bekerja 6 bulan di BB, dan dia berkali-kali menjawab “betul” dengan keyakinan penuh. Saya bahkan sempat ‘mengancam’ untuk konfirmasi ke Kantor BB, dan dia pun dengan tenang mempersilakan.

Akhirnya, saya menelepon nomor kantor BB yang tertulis di stiker yang tertempel di pintu taksi. Telepon diterima seorang petugas bernama Eddy. Semula Eddy mengira saya mau pesan taksi, tetapi setelah saya sampaikan permasalahan, dia mengaku mencatat semua keluhan saya, termasuk permintaan saya untuk mengkonfirmasi, apa betul sopir berinisial AA itu baru bekerja selama 6 bulan di BB. Dia minta nomor hape saya, dan berjanji akan menghubungi kembali. Saya sendiri merasa agak lega, meski tetap penasaran karena rasa ingin tahu belum juga terpenuhi.

Si sopir AA, ketika mendengar pembicaraan saya lewat telepon, tampak mulai salah tingkah. Saya sendiri sudah merasa sumpek, dan ketika argo menunjuk angka Rp 31.000 (jumlah yg dalam keadaan biasa sudah sampai tujuan), sedang perut sudah berontak minta diisi, saya akhirnya minta turun di depan warung tepi jalan. Jarak yang kami tempuh baru separoh lebih sedikit, tapi apa boleh bikin, kami sudah merasakan jok taksi seperti api dalam sekam.

Rabu sore, sekitar pukul 14.00, hape saya berdering. Ternyata yang menelepon Eddy dari BB (tapi saya tidak konfirmasi apakah ini Eddy yang sama dengan yang menerima telepon saya semalam). Saya agak surprise, cepat juga respon BB. Eddy atas nama manajemen mohon maaf atas perlakuan sopir AA. Dia mengaku manajemen sudah menginterogasi AA, dan memberikan sanksi sesuai ketentuan mereka. Dia juga menyatakan manajemen mau mengembalikan uang yang saya bayarkan sebesar Rp 31 ribu kepada saya, dan dia minta nomor rekening saya.

“Sebentar, mas Eddy,” kata saya memotong. “Saya semalam komplain sudah ‘dipusing2’ sopir taksi BB bernama AA, memang iya. Dan, saya karena itu merasa dibohongi. Tetapi saya menelepon semalam hanya karena ingin memastikan, apakah betul sopir AA itu baru bekerja 6 bulan di BB. Saya hanya ingin tahu, apakah dia bohong atau jujur sama saya. Kalau dia bohong, berarti saya dbohongi dua kali. Kalau memang dia baru bekerja 6 bulan, saya bisa maklum dia tidak tahu jalan, dan saya tidak menuntut apa-apa. Apalagi semalam dia juga sudah minta maaf saat saya turun dari taksi,” begitu penjelasan saya kepada Eddy.

Eddy kemudian menambahkan bahwa sopir AA sudah bekerja 2 tahun di BB, dan dalam interogasi mereka, AA sebetulnya menguasai wilayah Jakarta Selatan. Nah, lhadalah…. berarti hiu kecil di kepala saya masih normal.

“Jadi, saya minta nomor rekening bapak, karena sudah menjadi kebijakan manajemen untuk mengembalikan uang pelanggan yang memang dirugikan oleh taksi kami,” kata Eddy lagi.
Saat itu, saya langsung menegaskan kepada Eddy bahwa saya tidak mau uang itu kembali (lha cuman Rp 31 ribu je, kalau Rp 31 juta tentu lain kalkulasinya ). Eddy bilang itu hak saya. Saya bilang ke Eddy, kalau itu hak saya, saya minta diberikan kepada sopir AA. Eddy berusaha ngotot mengembalikan, tapi saya juga keukeuh tidak mau.

Saya katakan, saya melaporkan kasus AA ini juga dengan harapan jika memang dia bersalah, kiranya dia bisa menjadi lebih baik setelah peristiwa ini. Saya berharap, dia tidak dikenai sanksi berat karena saya tidak mau dia kehilangan pekerjaan gara-gara bermasalah dengan saya. Dan, yang penting, dia tidak akan mengulang perbuatan seperti itu kepada penumpang lainnya kelak. “Selain itu, saya sungguh berterimakasih dan mengapresiasi manajemen BB yang cepat merespon keluhan pelanggan. Saya harus akui BB bagus, dan saya harap AA nantinya bisa membantu menjaga citra BB,” kata saya.

Pembicaraan telepon saya dengan Eddy selesai. Saya tidak tahu, bagaimana BB memperlakukan AA, tetapi saya tentu berharap AA tidak dikenai sanksi berat. Semoga manajemen BB membaca note saya ini.

Oya, saya ingat, saat seorang teman menulis tentang ‘kebaikan’ carrefour di politikana.com, ada yang mempertanyakan, berapa si penulis dibayar oleh carrefour. Agar komentar serupa tidak muncul di artikel ini, sejak awal harus saya katakan:”Sumpah, saya tidak dibayar Blue Bird untuk menulis ini.”

bertrand russell versus sunan kalijaga

Saya tahu, Bertrand Russell itu seorang agnostik. Ia filsuf rasional dan intelektual. Ia meletakkan seluruh bangunan pemikirannya di atas asumsi, bahwa manusia itu makhluk rasional. Tetapi, sumpah, saya pilih ‘rasionalitas’ Kanjeng Sunan Kalijaga.

oleh irfan darsina

Artikel ”Sampah-sampah di Sekitar Kita” yang ditulis Kalangwan di Politikana.com sungguh menarik. Indikasinya bisa dlihat pada rating yang diberikan komunitas blog publik ini. Hampir semua memberi rating plus 1, dengan aneka pujian: bagus, menarik, penting, keren, sampai inspiratif. Tak ada rating minus, dan karena itu tak ada blok hitam.

Saya sendiri memberi rating +1 menarik untuk artikel itu. Tetapi, sesungguhnya, saya pribadi merasa tidak sependapat dengan isi artikel tersebut. Hanya karena ketiadaan cukup waktu dan keterbatasan referensi, saya tidak ingin memberi komentar yang mengundang perdebatan dengan Kalangwan –seorang pemikir dan tokoh pergerakan terbaik dan paling konsisten pada generasinya, kalau saya tidak salah kenal. Saya sekadar memberikan komentar nakal yang membuat kami bisa sedikit tersenyum.

Di artikel ini pun saya tidak bermaksud mengulang uraian Kalangwan. Tetapi, sekadar reminding untuk tujuan penulisan note ini, artikel menarik itu perlu kiranya sedikit diulas. Kalangwan memulai catatannya dengan berkisah tentang Bertrand Russell, filsuf jenius abad-20. Russell yang menulis traktat Principia Mathematica bersama AN Whitehead, pernah menulis sebuah esai satire yang menguraikan beberapa contoh dari apa yang disebutnya sebagai “omong kosong intelektual” atau “intellectual rubbish”.

Istilah itu dipakai Russell untuk menjelaskan betapa banyak hal dari konsep-konsep yang sering kita anggap intelektual ternyata memiliki bolong-bolong yang tak terduga, aib-aib yang memalukan, sekaligus dusta-dusta yang tak termaafkan.

Russel membicarakan “intellectual rubbish” itu dalam bukunya berjudul Unpopular Essays. Ia banyak menyajikan contoh-contoh dari konsep, teori, doktrin atau kepercayaan yang baginya omong kosong dan tak ada artinya. Dia mengolok-olok beberapa pemikiran tokoh agama, teolog dan filosof. Untuk lebih jelas, silakan baca tulisan Kalangwan di http://politikana.com/baca/2009/08/03/sampah-sampah-di-sekitar-kita.html. atau kalau baca esai Russell versi pdf, silakan klik http://books.google.co.id/books?id=WQY6C8LAya8C&dq=unpopular+essays&printsec=frontcover&source=bn&hl=id&ei=kMJ3SvL0Bo-BkQXf9ZWtBg&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=4#v=onepage&q=&f=false

Saya tertarik mengeksplor kisah tentang seorang pemimpin sebuah sekte keagamaan yang dikutip Russell di bagian akhir esai. Peristiwa ini terjadi pada 1820 di New York. Sang pemimpin Sekte, seorang perempuan, mengatakan bahwa ia bisa berjalan di atas air. Ia juga mengumumkan dirinya akan mendemosntrasikan kehebatannya itu di sebuah danau pada jam 11.00 besok harinya. Pada jam yang telah ditentukan, ribuan pengikut sekte itu pun berkumpul. Pemimpin sekte itu berkhotbah lebih dulu dan mengakhiri khotbahnya dengan pertanyaan, “Percayakah kalian semua bahwa saya sanggup berjalan di atas air?”

Secara aklamasi, ribuan pengikutnya mengangguk seraya berteriak: “Ya, kami percaya!”

“Kalau begitu, saya tak perlu melakukannya lagi!” Mereka semua lantas pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan puas. Tak ayal, Russell pun mengkritik habis kisah ini sebagai sampah intelektual. Saya tidak tahu, andai si pemimpin sekte membuktikan janjinya berjalan di atas air, barangkali kepuasan rasional Russell terpenuhi dan dia tidak akan menyebut peristiwa itu sebagai sampah intelektual.

Saya juga tidak tahu, Russell barangkali belum pernah mendengar kisah Walisongo. Satu – dua abad sebelum peristiwa di New York itu, di tanah Jawa hidup Sunan Kalijaga dan murid-muridnya. Dalam suatu perjalanan, Sunan Kalijaga tiba di sebuah sungai besar. Sunan dan murid2nya pun menuju perahu tambang untuk menyeberang, kecuali seorang muridnya yang paling tua.

Si murid yang satu ini dengan tenang melangkah ke air dan berlenggang kangkung ke seberang. Saat perahu sudah sampai di seberang, dan Sunan serta murid-muridnya tadi naik ke tepi sungai, murid yang memilih berjalan di atas air tadi tiba-tiba tenggelam ketika berada persis di tengah sungai. Ia terpaksa berenang menyusul guru dan teman2 seperguruannya.

Sesampai di tepi, dengan napas termehek-mehek, dia menemui gurunya yang menyambut dengan senyum ramah. “Maaf guru, saya baru mempelajari ilmu berjalan di atas air tadi selama 20 tahun. Jika saya mempelajarinya 20 tahun lagi, saya pasti tidak akan tenggelam persis di tengah-tengah sungai,” katanya, terengah.

Kebayang, apa yang dikatakan Russell jika berada bersama Sunan Kalijaga saat itu? Untuk kepuasan rasionalnya Russell mungkin akan berkata, “Tak ada masalah, ayo terus pelajari ilmu itu 20 tahun lagi dan kita buktikan, Anda berhasil!” Yach, ini sekadar jawaban imajinatif saya andai Russell yang rasional itu masih hidup.

Tetapi, tahukah Anda apa yang dikatakan Sunan Kalijaga? Saya menangkap rasionalitas yang lain yang saya merasa lebih cocok. “Saya tidak akan menghabiskan 40 tahun umur saya untuk mempelajari ilmu yang cukup dengan uang dua benggol (keping tembaga) sudah bisa membuat saya menyeberangi sungai,” kata Kanjeng Sunan.

Saya tahu, Russell itu manusia rasional. Tetapi, sumpah, saya pilih rasionalitas Kanjeng Sunan Kalijaga.